Kadinkes Kabupaten Bekasi dr H.Arief Kurnia: Komitmen Jaga Kualitas Layanan Kesehatan

Pemerintahan28 Dilihat

dr H Arief Kurnia.


BeTimes.id–.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, dr Arief Kurnia, berkomitmen menjaga kualitas layanan kesehatan dasar dengan didukung  ketersediaan obat yang dilakukan secara sistematis melalui mekanisme Rencana Kebutuhan Obat (RKO) yang disusun sejak tahun lal

Pihaknya,  memastikan ketersediaan obat di gudang UPTD Farmasi dan di Puskesmas se-Kabupaten Bekasi. Kepastian ini didukung perencanaan pengadaan yang matang serta peningkatan anggaran yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat berjalan tanpa hambatan

“Untuk perencanaan kebutuhan obat  tahun 2026 sudah di lakukan sejak 2025 melalui RKO yang dihimpun dari seluruh puskesmas dan disesuaikan dengan pagu anggaran agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan riil,” katanya belum lama ini.

Ditambahkan, pendekatan  menjadi kunci dalam mengantisipasi potensi kekurangan maupun kelebihan stok obat. Dengan sistem yang terukur, distribusi dan pemenuhan kebutuhan di seluruh fasilitas kesehatan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.

Peningkatan anggaran tahun 2026  sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas ketersediaan obat. Dinas Kesehatan optimistis, dengan dukungan anggaran yang hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat dapat terpenuhi secara optimal sepanjang tahun.

Sementara itu, Kepala UPTD Gudang Farmasi Kabupaten Bekasi, Atik Ardianto, menjelaskan bahwa hingga triwulan pertama 2026, sekitar 80 Persen kebutuhan obat telah tersedia di gudang dan siap didistribusikan ke berbagai fasilitas kesehatan.

“Untuk tiga bulan pertama,  kondisi stok aman. Sekitar 80 persen kebutuhan obat sudah tersedia di gudang, sehingga dalam waktu dekat siap untuk didistribusikan ke puskesmas dan UPTD kesehatan,” ungkapnya.

Meningkatnya  kebutuhan obat setiap tahun tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk dan bertambahnya fasilitas layanan kesehatan, seperti Puskesmas yang dilayani lebih dari 50 unit, sehingga kebutuhan obat  pun terus meningkat.

“Dengan pertumbuhan penduduk, kebutuhan obat  terus naik, terutama untuk layanan kesehatan dasar yang menjadi perhatian utama dalam perencanaan distribusi,” jelasnya.

Meski demikian, diakui masih terdapat kendala teknis di lapangan, terutama terkait keterbatasan sarana dan prasarana gudang farmasi. Akses masuk yang sempit serta kapasitas parkir yang terbatas kerap menjadi hambatan saat aktivitas distribusi berlangsung. Tetapi, kondisi itu, tidak menganggu secara signifikan terhadap ketersediaan obat.

“Anggaran yang lebih baik,  kebutuhan obat di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya bisa terpenuhi secara optimal sepanjang tahun ini,” katanya.(***)

Komentar