Dalam pertemuan tersebut, GAMKI mengusulkan pentingnya membangun konsensus nasional lintas iman yang melibatkan PBNU, Muhammadiyah, PGI, KWI, dan tokoh-tokoh keagamaan lainnya, guna menyepakati norma-norma kebangsaan berdasarkan Pancasila.
”Kita butuh satu titik temu agar nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya menjadi jargon. Kalau tidak disepakati bersama, maka setiap pergantian pemimpin bisa mengubah arah kebijakan sesuai kehendak politik. Ini yang memicu lahirnya intoleransi dan ketidakadilan lainnya,” tegas Sahat.
Gus Yahya menyambut positif gagasan tersebut dan bahkan telah menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh lintas agama sebelumnya. “Beliau sangat responsif dan sudah menjalin dialog, termasuk dengan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Jacky (Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty-red). Artinya, benih konsensus ini sudah mulai tumbuh dan perlu kita dukung bersama,” imbuhnya.
GAMKI juga menyampaikan bahwa kolaborasi pemuda lintas agama sudah mulai dijalankan. Salah satunya saat mereka bersama GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katolik, dan organisasi pemuda keagamaan lainnya bertemu Paus Fransiskus di Vatikan pada 2024 untuk mendeklarasikan komitmen bersama atas nilai-nilai Pancasila.
“Deklarasi Jakarta-Vatikan adalah bentuk sumbangan kecil dari pemuda lintas iman. Tapi yang besar harus datang dari para tokoh utama, seperti PBNU, Muhammadiyah, PGI, KWI, GAMKI siap mendukung,” ujar Sahat.
Komentar