Driver Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, PGI: Membangun Bangsa Bukan dengan Represi, Tetapi Refleksi

Hukum24 Dilihat

BeTimes.id– Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan rasa keprihatinan serta dukacita yang mendalam terhadap keluarga pengemudi ojek yang meninggal, dan juga kepada para anggota kepolisian yang menjadi korban dalam tugas pengamanan demonstrasi.

Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Manuputty, meminta untuk tidak melihat demontsrasi sebagai ancaman, karena ia adalah cermin dari kegelisahan yang tak lagi bisa ditahan, dari harapan yang terus-menerus diabaikan.

Jacklevyn mengritisi penanganan demonstrasi melalui kekerasan yang berlebihan oleh aparat keamanan. “Alangkah pilu ketika suara-suara para demonstran itu dibalas dengan kekerasan. Ketika tangan yang seharusnya melindungi justru menindas. Ketika gas air mata serta meriam air menggantikan dialog, dan pentungan menggantikan empati.

Kita tidak sedang menjaga ketertiban; kita sedang mengkhianati keadilan,” kata Jacklevyn, dalam keterangan persnya , Jumat (29/8).

PGI meminta kepada para politisi untuk tidak menafsirkan kemarahan rakyat sebagai alat politik. “Jangan pura-pura lupa, kemarahan rakyat bukan datang dari ruang kosong. Ia lahir dari janji-janji yang dikhianati, dari kebijakan yang menyakiti, dari kepemimpinan yang abai. Jangan mempolitisir luka yang kalian torehkan,”tegas Pdt Jacklevyn.

Dia juga menyerukan kepada masyarakat agar tidak membiarkan amarah mengaburkan akal sehat. “Kita butuh ketenangan, bukan karena kita lemah, tapi karena kita ingin tuntutan-tuntutan kita dicapai dengan bermartabat. Mari jaga ruang perjuangan ini tetap bermoral, tetap beradab, dan tidak anarkhis,” imbaunya.

Menyikapi aparat penegak hukum, Jacklevyn, mendorong untuk menangani peristiwa tragis yang berakibat meninggalnya pengemudi ojek secara jujur, transparan, dan mengesampingkan aspek impunitas.

Menurutnya, bukan saja aparat penegak hukum, tetapi bangsa ini butuh keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Untuk membangun bangsa ini bukan dengan represi, tetapi refleksi. Bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian untuk berubah. “Suara rakyat bukan untuk dibungkam, tetapi untuk didengar, dipahami, dan dijadikan arah,”ujarnya.

Di tempat terpisah, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bertemu dengan keluarga sopir ojek online (ojol) yang tewas terlindas rantis Brimob di Jakarta. Kapolri tampak memeluk salah satu anggota keluarga korban.

Pertemuan itu terjadi di RSCM Polri, Jumat (29/8) dini hari. Kapolri ditemani Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri saat menemui keluarga korban.Kapolri bertemu dengan dua perwakilan keluarga korban di salah satu ruangan di RSCM.

Kapolri kemudian terlihat membungkuk saat bersalaman dengan keluarga korban.Tak berselang lama, Kapolri memeluk salah satu keluarga korban. Anggota keluarga tersebut tampak menangis di pelukan Kapolri.Kapolri nampak menepuk-nepuk punggung keluarga korban tersebut.

Wajahnya juga tampak menahan tangis.Setelahnya, Kapolri juga bersalaman dengan salah satu anggota keluarga korban lainnya di ruangan tersebut. Kapolri menyampaikan permohonan maaf.”Mohon maaf ya Pak ya,” ujar Kapolri.Insiden rantis Brimob melindas sopir ojol ini terjadi pada Kamis (28/8) di Jakarta. Tujuh orang anggota Brimob yang diduga terlibat kasus tersebut saat ini telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan. (ralian)

Komentar