“Uang bukan segalanya, tetapi ketiadaan uang bisa mengubah banyak hal. Dana darurat adalah perlindungan, bukan kemewahan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan mengapa banyak orang terjebak pinjol, yaitu karena faktor mendesak, rasa malu meminjam keluarga, keinginan mendapatkan pinjaman cepat, dan tidak ingin terlihat tidak mampu.
“Namun, kemudahan yang didapat justru menjerat mereka dengan rentenir digital. Dulu mengetuk pintu, sekarang mengetuk notifikasi,” imbuhnya.
Mesa juga mengingatkan akan risiko bunga dan denda berlipat, tekanan penagihan, serta penyalahgunaan data pribadi yang sering tidak disadari oleh peminjam.
Senada dengan itu, Hakim Iriaty Khairul Ummah menekankan peran keluarga sebagai fondasi masyarakat. Ia menyebut bahwa masalah ekonomi sering menjadi pemicu konflik rumah tangga.
“Kurangnya literasi keuangan dapat menimbulkan stres dan pertengkaran. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering berawal dari masalah kecil yang tidak dikelola dengan baik. Dengan edukasi yang tepat, kita bisa mencegah konflik sejak dini,” tegas Iriaty.






Komentar