BeTimes.id– Di ruang pertemuan Kantor Kecamatan Duren Sawit, Senin (27/4), suasana cair namun sarat akan keresahan sosial menyelimuti audiensi antara pengurus partai dan birokrasi.
Siang itu, jajaran Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Duren Sawit datang bukan untuk membawa atribut kampanye, melainkan membawa tumpukan data tentang realitas pahit di gang-gang sempit wilayah mereka.
Langkah kaki rombongan yang dipimpin oleh Boy Surentu, Wakil Ketua Bidang Organisasi DPC PDIP Jakarta Timur, disambut oleh Wakil Camat Duren Sawit, Andri. Meski Camat Kelik Sukanto berhalangan hadir karena panggilan mendadak dari Walikota, diskusi tetap berjalan dengan bobot yang sama, tentang kemanusiaan yang mendesak.
Potret Kelam di Balik Megahnya KotaBoy Surentu membuka pembicaraan dengan nada serius. Ia membawa “oleh-oleh” hasil pertemuan tingkat kota yang kemudian dibedah di level kecamatan. Fokusnya jelas, kesehatan dan masa depan generasi muda Duren Sawit yang sedang dipertaruhkan.”Di balik hiruk-pikuk Duren Sawit, masih ada sekitar 60-an anak yang terjebak dalam belenggu stunting,” ungkap Boy.
Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan alarm bagi masa depan Jakarta Timur.Keresahan Boy tak berhenti di sana. Ia memaparkan fenomena sosial yang lebih menyesakkan dada: pernikahan dini.
Di tengah arus modernitas, ternyata masih ditemukan kasus anak-anak yang melepas masa lajang di bawah usia 17 tahun. “Bahkan, ada yang baru menginjak usia 12 tahun sudah menikah. Ini sangat memprihatinkan,” tambahnya dengan nada getir.
Isu-isu ini, ditambah dengan residu tawuran warga yang masih kerap pecah di sudut-sudut jalan, menjadi poin utama yang dititipkan PAC PDIP kepada pihak kecamatan.
Gayung Bersambut di Meja BirokrasiMendengar paparan tersebut, Wakil Camat Andri tampak menyimak dengan seksama. Baginya, data yang dibawa oleh jajaran pengurus partai mulai dari Ketua PAC Siti Rochani hingga para wakil bidang adalah potret lapangan yang sangat berharga bagi pemerintah.
Andri menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan aspirasi ini menguap begitu saja di ruang ber-AC. Ia berjanji akan segera menggerakkan mesin birokrasi di bawahnya.”Hasil audiensi ini sangat penting. Pertemuan ini memberi kami masukan konkret mengenai program kolaboratif apa yang bisa segera kita eksekusi,” tutur Andri.
Ia berencana memanggil para Lurah dan Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) terkait dalam sebuah Rapat Koordinasi (Rakor) khusus untuk membedah solusi atas isu stunting dan pernikahan dini tersebut.
Sinergi Tanpa Sekat.
Pertemuan yang berlangsung hangat itu turut dihadiri oleh jajaran pengurus yang membidangi isu-isu spesifik, mulai dari penanggulangan bencana, hukum, hingga lingkungan hidup.
Kehadiran figur seperti Beti Salasastri yang membidangi kesehatan dan anak, serta Jemi Bowo di bidang kebijakan publik, mempertegas bahwa kunjungan ini adalah upaya serius partai untuk melakukan fungsi pengawasan sosial.
Sesi audiensi siang itu ditutup dengan jabat tangan dan foto bersama. Di depan kamera, mereka tersenyum, namun di balik itu ada beban tanggung jawab yang baru saja disepakati, memastikan tak ada lagi anak usia 12 tahun di Duren Sawit yang harus kehilangan masa kecilnya karena pernikahan, dan memastikan 60 anak yang mengalami stunting mendapatkan hak mereka untuk tumbuh sehat.
Sebuah langkah kecil di kantor kecamatan, yang diharapkan mampu membawa perubahan besar bagi wajah sosial Duren Sawit di masa depan. (ralian)






Komentar