Meski lautan manusia memadati kawasan tersebut jauh lebih padat dari hari biasa, Raka tidak merasa terganggu. Bagi sebagian orang, padat berarti sumpek. Namun di Blok M, kepadatan itu adalah sebuah energi. “Tapi menurut saya justru itu yang bikin menarik. Rasanya kayak semua orang lagi pengin keluar rumah dan akhirnya ketemunya di Blok M,” tutur Raka dengan senyum lebar.
Tak jauh dari tempat Raka berbincang, ada Dina (31) yang terdampar di tengah keriuhan yang sama. Langkah kaki Dina ke Blok M sebenarnya bermula dari ketidaksengajaan—sebuah janji makan siang bersama teman yang membawanya ke jantung Jakarta Selatan ini. Namun, ia tidak bisa memungkiri daya pikat magnetis kawasan ini.
Di mata Dina, transformasi Blok M menjadi episentrum baru anak muda disokong oleh dua hal: kemudahan akses transportasi publik dan algoritma media sosial.
“Mungkin karena sekarang transportasinya gampang dan banyak tempat yang viral di media sosial. Jadi orang datang bukan cuma untuk nongkrong, tapi juga karena merasa harus datang ke tempat yang sedang ramai dibicarakan,” kata Dina, menganalisis fenomena di sekelilingnya.
Kendati untuk sekadar mendapatkan kursi kosong di akhir pekan kini butuh perjuangan ekstra, Dina merasa Blok M tetap menyisakan ruang kenyamanan bagi para pengunjungnya. Kawasan ini telah berevolusi menjadi pilihan utama, mengalahkan opsi-opsi hiburan lain di ibu kota.






Komentar