Sahabat Inteligensia Kristen Bekasi Dorong Aksi Ekoteologi Nyata Tagih Peran Gereja Merawat Bumi

BeTimes.id–RaanDi tengah kepungan krisis ekologi dan ancaman alih fungsi ratusan ribu hektar hutan lindung, gereja dituntut tidak hanya berkhotbah dari balik mimbar, tetapi juga mengambil peran aktif dalam merawat lingkungan. Keselamatan yang diwartakan iman Kristen dinilai perlu ditafsirkan secara utuh untuk kelestarian seluruh ciptaan.

Hal tersebut mengemuka dalam Ibadah Bulanan dan Diskusi Reflektif Sahabat Inteligensia Kristen Kota Bekasi bertajuk “Gereja dan Reformasi Pemikiran sebagai Upaya Recovery Kerusakan Lingkungan” di Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (16/10/2026).

Penceramah sekaligus akademisi teologia, Dr. Ir. Juli Edi Sebayang, M.Si., menyatakan bahwa akar utama kerusakan ekosistem berawal dari pergeseran pola pikir manusia yang terjebak dalam sikap antroposentrisme. Menurutnya, mandat Kitab Kejadian mengenai “berkuasalah” (radah) dan “taklukkanlah” (kabash) sering kali ditafsirkan secara keliru sebagai pembenaran untuk mengeksploitasi alam.

“Dulu masyarakat adat hidup bersahaja. Kini dorongan materialistis meRaanimicu eksploitasi berlebihan yang melahirkan limbah, polusi, hingga bencana. Celakanya, kerusakan alam kerap dianggap sebagai tanggung jawab tunggal pemerintah semata, bukan tanggung jawab iman di hadapan Sang Pencipta,” ujar purnatugas Kementerian Pertanian yang juga Penatua GBKP Bekasi tersebut.

Juli Edi menambahkan, beban ekologis makin berat seiring melonjaknya populasi dunia yang menembus 8 miliar jiwa dan penduduk Indonesia yang mendekati 290 juta jiwa. Selain itu, ia menyoroti lemahnya penegakan hukum lingkungan yang cenderung ‘tajam ke bawah dan tumpul ke atas’ ketika berhadapan dengan eksploitasi tambang, serta kegagalan proyek rehabilitasi lahan akibat minimnya pemeliharaan pascapenanaman.

Ia menilai, sejauh ini peran lembaga keagamaan seperti gereja masih sebatas wacana retoris, seminar, dan khotbah, tanpa gerakan moral terpadu akibat ego sektoral antardenominasi.

Sebagai solusi, Juli Edi mendorong reformasi pemikiran berbasis ekoteologi konkret. Gereja diharapkan menjadi simpul kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan swasta, memasukkan edukasi lingkungan ke dalam kurikulum pendidikan anak/remaja, serta menetapkan Ibadah Serentak Lingkungan Hidup secara berkala dalam kalender tahunan gereja.(ralian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *