“Para petugas serta pegawai di lokasi melaksanakan evakuasi dan prosedur tetap (protap) kebencanaan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan prosedur diakhiri dengan pelaporan kondisi keamanan di setiap lantai kepada Komandan Peleton (Danton) yang bertugas,” jelas Ali.
Menurut Ali, sejumlah peserta sempat terkejut karena simulasi dilaksanakan secara mendadak. Namun, mereka dapat segera beradaptasi dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Meski demikian, evaluasi setelah simulasi menunjukkan perlunya peningkatan respons dalam penyampaian tanda bahaya melalui sirene serta kesiapsiagaan personel. Perbaikan tersebut diperlukan agar informasi darurat dapat disampaikan kepada masyarakat secara lebih cepat dan tepat.
“Dalam evaluasi pasca-simulasi, dinilai perlunya peningkatan pada respons penyampaian tanda bahaya (sirene) dan kesiapsiagaan personel agar penyampaian informasi darurat kepada masyarakat dapat berlangsung lebih cepat dan tepat,” ungkapnya.
Dalam kegiatan yang turut dihadiri Kepala Bagian Pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Timur, Carlos Damanik, Ali menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.
“Meskipun bencana tidak diharapkan terjadi, kesiapsiagaan seluruh elemen petugas dan masyarakat sangat penting untuk meminimalisasi risiko dampak bencana di masa mendatang,” tegasnya. (ralian)
