BeTimes.id– Persatuan Penyiar Radio Seluruh Indonesia (PERSIARI) bertemu dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Kamis (20/8).
Pertemuan yang berlangsung sekitar satu setengah jam itu membahas perkembangan industri radio, transformasi profesi penyiar, serta tantangan komunikasi publik di tengah pesatnya perkembangan media digital.
Ketua Umum PERSIARI, Suwiryo, mengatakan profesi penyiar radio telah mengalami perubahan signifikan. Penyiar kini tidak hanya mengandalkan siaran melalui frekuensi radio, tetapi juga memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas jangkauan audiens.
Menurut Suwiryo, perkembangan tersebut mendorong penyiar radio untuk membangun personal branding sekaligus meningkatkan kemampuan memproduksi konten digital.“Konvergensi media saat ini harus menjadi momentum bagi para penyiar radio untuk meng-upgrade skill agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dalam mengakses beragam informasi dan hiburan. Bukan hanya melalui radio, tetapi juga melalui media yang ada dalam genggaman,” ujar Suwiryo.
Ia menambahkan, perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi radio semakin terlihat. Radio yang selama ini identik sebagai media audio mulai berkembang dengan menghadirkan unsur visual melalui berbagai platform digital.Suwiryo menyebut fenomena tersebut sebagai “radio visual”, ketika masyarakat tidak hanya mendengarkan suara penyiar, tetapi juga dapat melihat sosok penyiar secara langsung melalui platform digital.“Orang bisa mendengar radio, tetapi pada saat yang sama juga bisa melihat wajah penyiarnya. Saya menyebutnya sebagai radio visual,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bakom RI M. Qodari menyambut baik pertemuan dengan PERSIARI. Ia bahkan mengibaratkan pertemuan tersebut seperti reuni karena mengingatkan dirinya pada masa ketika radio menjadi salah satu sumber utama hiburan masyarakat, termasuk melalui program Sandiwara Radio.
Qodari sependapat bahwa perkembangan teknologi menuntut penyiar radio untuk terus beradaptasi. Menurutnya, kemampuan penyiar dapat dikembangkan tidak hanya dalam bentuk siaran radio, tetapi juga menjadi konten digital, termasuk podcast.“Podcast yang banyak di YouTube itu juga awalnya dari radio, kemudian divisualkan melalui proses produksi sehingga menjadi program podcast yang banyak kita lihat saat ini,” ujar Qodari.(ralian)
