Sunyi di Pasar Palmeriam: Ketika Deru Kereta Menjadi Lonceng Kematian Ekonomi Warga

Bisnis98 Dilihat

BeTimes.id– Bagi pedagang di Pasar Palmeriam, gemuruh mesin lokomotif yang membelah Stasiun Pondok Jati bukan lagi sekadar musik pengiring aktivitas kota. Suara klakson panjang dan gesekan besi rel itu kini terdengar seperti lonceng kecemasan.

Di balik palang perlintasan sebidang JPL 46 yang tertutup rapat, tersimpan narasi tentang sebuah kawasan yang sedang “tercekik” oleh kemacetan dan ekonomi yang perlahan sekarat.Terjepit di Jalur Nadi JakartaRabu malam (22/4), suasana di perbatasan Matraman dan Pisangan itu tampak semrawut.

Heri Susanto, Dewan Kota Administrasi Jakarta Timur, berdiri di tengah kepulan asap knalpot, menyaksikan bagaimana jalanan lokal yang sempit dipaksa memikul beban kendaraan yang di luar nalar.”Begitu pintu perlintasan ditutup, antrean langsung mengular panjang dalam hitungan detik. Lebar jalannya tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang lewat,” ujar Heri dengan nada getir.

Pondok Jati bukan sekadar titik pertemuan jalan, melainkan bagian dari Loop Line atau jalur lingkar Jakarta yang tak pernah tidur. KRL dari Bekasi dan Cikarang menderu bergantian dengan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) dari Pasar Senen.

Belum lagi rangkaian kereta logistik yang panjangnya seolah tak berujung, memaksa palang pintu menutup lebih lama dan menghentikan denyut nadi jalanan di atasnya.

Ironi Keamanan dan Perut yang LaparAda ironi yang pedih di sini. Penutupan akses perlintasan sebidang awalnya dilakukan sebagai benteng untuk meredam tawuran antar-pemuda Palmeriam dan Kayu Manis.

Namun, kebijakan yang berniat menjaga keamanan itu justru menjadi bumerang ekonomi.Bagi Wati, seorang pedagang sayur yang wajahnya tampak kian lelah, penutupan akses adalah pemutus rezeki yang nyata.

Sejak akses ditutup total, ia kehilangan hampir separuh pendapatan hariannya.”Biasanya pembeli dari Kayu Manis tinggal menyeberang sedikit sudah sampai pasar. Sekarang mereka harus memutar jauh, akhirnya mereka pindah belanja ke pasar lain,” keluh Wati sambil menatap lapak sayurnya yang masih menumpuk.

Laporan di lapangan menunjukkan angka yang mengerikan: omzet pedagang Pasar Palmeriam merosot tajam hingga 80%. Keamanan memang terjaga dari tawuran, namun “perang” melawan kemiskinan justru dimulai.

Labirin Birokrasi yang Buntu

Heri Susanto tak menyembunyikan kekecewaannya pada lambannya gerak birokrasi. Meski persoalan ini sudah berulang kali dilaporkan ke tingkat Kelurahan hingga Wali Kota sejak tujuh bulan lalu, jawaban yang diterima hanyalah kesunyian.

Bahkan, meski isu ini telah sampai ke meja DPRD DKI Jakarta, realita di lapangan tetap nihil perubahan. Pemerintah kota dianggap kurang taktis dalam menangani masalah yang seharusnya bisa diurai tanpa harus menunggu intervensi kementerian.

Camat Matraman, M. Husnul Fauzi, mengakui bahwa titik tersebut telah menjadi simpul kemacetan yang kronis, diperparah oleh proyek pembangunan di Jalan Raya Pramuka.

Namun, rekayasa lalu lintas seolah membentur tembok karena kendala rute angkutan umum yang tumpang tindih.Asa yang Tergantung pada JPOKini, harapan warga dan pedagang hanya tersisa pada satu solusi infrastruktur:

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang layak dan aman. Mereka mendesak PT KAI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tidak hanya menutup jalan, tapi juga membuka akses bagi manusia.

Di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, para pedagang Palmeriam hanya bisa menunggu. Mereka menanti apakah pemerintah akan hadir membawa solusi, atau membiarkan pasar bersejarah ini perlahan mati, terkubur di bawah deru kereta yang tak pernah peduli pada perut yang lapar. (ralian)

Komentar