Di Kelurahan Ciracas yang memiliki 10 RW dan 142 RT, pengurus yang semula lengkap 30 orang kini hanya menyisakan lima orang yang bertahan. Kondisi serupa terjadi di Susukan dan Kelapa Dua Wetan, di mana pengurus aktif menyusut hingga hitungan jari.
Menanggapi krisis tersebut, Ralian Jawalsen menegaskan bahwa Musran dan Musanran bukan sekadar seremoni administratif, melainkan urat nadi organisasi.
“Disitulah konsolidasi dilakukan, regenerasi kepemimpinan pengurus dimulai,” ujar mantan aktivis GMKI tersebut dengan nada mantap.
Ralian memaparkan linimasa krusial bagi partai banteng di Ciracas. Hasil penjaringan calon ketua ditargetkan rampung pada 1 Juni, tepat saat peringatan Hari Lahir Pancasila. SK kepengurusan baru tersebut nantinya akan diserahkan dalam sebuah “Rapat Akbar” yang digelar bertepatan dengan hari lahir sang Proklamator, Bung Karno.
Optimisme baru juga diembuskan oleh Hizkia Saduk. Ia mulai membidik wajah-wajah segar untuk mengisi Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) demi menyongsong Pemilu 2029. “Pengurus Bapilu ke depan akan berada di kisaran usia 25 hingga 35 tahun,” pungkasnya, menandai era baru kepemimpinan muda di Ciracas. (ralian)






Komentar