BeTimes.id– Malam di Jalan Bendungan Walahar Buntu, Tanah Abang, biasanya tenang. Namun, pada Rabu (22/4) menjelang tengah malam, kesunyian itu pecah oleh dentum keras yang diikuti jerit minta tolong.
Dua perempuan muda terkapar di aspal dingin setelah nekat melompat dari lantai empat sebuah rumah kos.
D (18) dan R (30), dua asisten rumah tangga (ART), ditemukan warga dalam kondisi memilukan. Di samping mereka, beberapa tas berisi pakaian berserakan sebuah upaya pelarian yang berakhir tragis.
Tejo (28), warga sekitar yang mendengar keramaian, bergegas keluar rumah. Di lokasi kejadian, ia melihat pemandangan yang sulit dilupakan.
“Sayup-sayup saya dengar ada ramai-ramai. Ada orang jatuh katanya. Saya pun keluar,” ujar Tejo saat dihubungi, Jumat (24/4).
Kondisi kedua korban sangat kontras. D, remaja, hanya bisa merespons dengan gerakan kaki yang meronta pelan tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Sementara R, masih bisa berbicara meski pergelangan tangannya bersimbah darah.
“D terus merintih pelan. Katanya sakit semua, dari paha sampai badan atas,” kenang Tejo.
Ambulans tiba tepat tengah malam untuk melarikan keduanya ke RS Mintohardjo. Namun, takdir berkata lain bagi D. Pada pukul 01.13 WIB, sebuah kabar duka masuk ke ponsel Tejo melalui tetangganya, D meninggal dunia di rumah sakit.
Apa yang membuat seseorang begitu putus asa hingga berani bertaruh nyawa dengan ketinggian?
Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, mengonfirmasi bahwa motif sementara adalah keinginan untuk kabur. Berdasarkan keterangan saksi ART lain, suasana kerja di rumah kos tersebut diduga sangat menekan. Pasalnya, Ketidaktahanan terhadap perlakuan majikan.
Beberapa keterangan saksi, majikan dikenal “galak,” meski bentuk pastinya masih didalami.
Sementara, Kondisi korban R mengalami patah tangan dan masih dalam perawatan intensif.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan maraton terhadap sang majikan. Polisi belum berani menyimpulkan apakah ada unsur penyekapan atau kekerasan fisik yang sistematis.
“Kita juga belum tahu (pasti) karena pemeriksaan belum selesai,” pungkas Roby.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam dan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok rumah kos Bendungan Hilir itu, hingga D harus menjemput ajalnya di usia yang masih sangat muda. (ralian)






Komentar