Perjalanan Atha menuju kompetisi internasional tidak berlangsung secara instan. Menurut Rahman, orang tua Atha, putranya terlebih dahulu mengikuti berbagai tahapan seleksi, mulai dari kompetisi daring tingkat nasional hingga berhasil mendapatkan kesempatan untuk tampil pada babak internasional di Malaysia.
“Awalnya kami ikut les di sebuah lembaga, kemudian Atha mendapatkan beasiswa. Dari sana dia mengikuti berbagai lomba secara online yang memang sudah masuk taraf internasional. Ada babak penyisihan dan final, jadi tidak langsung ikut kemudian mendapatkan juara,” jelas Rahman.

Rahman menuturkan, dalam kompetisi yang diikuti Atha, peserta berasal dari berbagai negara dan harus melewati tahapan seleksi yang cukup ketat. Pada babak final di Malaysia, Atha tidak hanya meraih kategori Gold, tetapi juga mendapatkan kategori Diamond karena mampu menjawab sekitar 90 persen soal dengan benar.
“Untuk yang final di Malaysia kemarin, dia mendapatkan dua kategori, satu Gold dan satu Diamond. Diamond itu diberikan untuk penilaian jawaban yang mencapai 90 persen benar,” ungkapnya.
Kesuksesan tersebut juga tidak terlepas dari ketertarikan Atha terhadap matematika yang telah tumbuh sejak usia dini. Rahman mengatakan, keluarga tidak pernah memaksakan Atha untuk mengikuti berbagai perlombaan, melainkan memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan minat yang muncul secara alami.
