Orang nomor satu tersebut menekankan pentingnya efisiensi anggaran dalam pelaksanaan pembangunan. Dengan kondisi fiskal yang harus disesuaikan, Pemerintah Kota Bekasi melakukan berbagai penghematan agar anggaran tetap dapat diarahkan kepada kebutuhan masyarakat.
“Efisiensi kita hampir Rp500 miliar. Biasanya sekitar Rp7 triliun, sekarang menjadi sekitar Rp6,5 triliun. Ada beberapa yang kita kurangi, seperti snack dan kopi, termasuk pelaksanaan upacara yang tidak lagi menggunakan tenda. Pemerintah harus mengalah, karena uang yang berasal dari masyarakat harus kita kembalikan lagi kepada masyarakat,” jelasnya.
Selain pembangunan fisik, ia juga meminta jajaran kewilayahan untuk memastikan pemeliharaan setelah pembangunan selesai. Turap, taman, saluran air, hingga fasilitas lingkungan lainnya harus dirawat secara bersama-sama.
“Persoalan kita klasik. Jangan sampai setelah dibangun kemudian kita tidak peduli ke depannya. Jangan karena baru dibuat, perhatiannya hanya di awal. Setelah itu harus ada pemeliharaan,” tegasnya. (Adv/Dis)
