Utang RI Tembus Rp9.920 Triliun, Menkeu Purbaya: Kita Paling Hati-hati di Asia

Ekonomi29 Dilihat

BeTimes.id– Di balik angka fantastis yang hampir menyentuh angka psikologis Rp10.000 triliun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melihat sebuah narasi yang berbeda.

Baginya, tumpukan utang pemerintah bukan sekadar beban, melainkan instrumen yang terjaga dalam kendali yang ketat. Dalam sebuah media briefing di kantor Kementerian Keuangan pada Senin (11/5), Purbaya tampil percaya diri menanggapi kekhawatiran publik.

Ia menegaskan bahwa posisi utang Indonesia saat ini masih berada dalam zona aman.”Masih aman, masih sekitar 40 persen lebih sedikit,” ujar Purbaya dengan lugas.

Keyakinan Purbaya bukan tanpa dasar. Secara konstitusi, UU Keuangan Negara mematok batas maksimal rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60 persen. Dengan rasio saat ini yang berada di angka 40,75 persen, Indonesia dinilai masih memiliki ruang napas yang cukup lega dibandingkan negara-negara tetangga, bahkan negara maju sekalipun.

Cermin dari Tetangga Purbaya mengajak masyarakat untuk melihat gambaran besar di panggung global. Ia membandingkan posisi Indonesia dengan Singapura yang memiliki rasio utang hingga 180 persen, atau Malaysia dan Thailand yang telah melampaui angka 60 persen.”Kita termasuk paling hati-hati dibanding negara-negara sekeliling kita. Dibanding AS juga, dibanding Jepang,” katanya lagi.

Namun, di balik penjelasan teknis tersebut, terselip nada kekecewaan. Purbaya menyayangkan pandangan skeptis yang seringkali hanya menyoroti lonjakan angka nominal tanpa melihat kapasitas fiskal secara utuh.

Ia merasa kerja keras timnya dalam menjaga stabilitas ekonomi kurang mendapatkan apresiasi.“Harusnya Anda puji-puji kita. Cuma enggak pernah kan? Kenapa Anda lihat dari sisi negatif terus?” selorohnya di hadapan awak media.

Struktur yang Kokoh Berdasarkan data terbaru dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per akhir Maret 2026, total utang pemerintah kini berdiri di angka Rp9.920,42 triliun.

Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar Rp282,52 triliun sejak akhir tahun lalu.Menariknya, mayoritas utang tersebut tidak berasal dari pinjaman luar negeri yang rentan, melainkan dari instrumen domestik, yakni Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 8.652,89 triliun atau 87,22 %, dan pinjaman sebesar Rp 1.267,52 triliun (12,78%).

Dengan strategi yang berfokus pada perluasan basis investor dalam negeri dan pengurangan ketergantungan pada dollar AS, pemerintah optimistis kesinambungan fiskal Indonesia akan tetap terjaga meski badai ekonomi global terus mengintai.(ralian) .

Komentar