Menkeu Purbaya Semprot Ekonom ‘Asbun’: Kalau Enggak Ngerti, Sekolah Lagi!

Nasional101 Dilihat

BeTimes.id– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik pedas terhadap sejumlah ekonom yang dinilai memberikan pandangan berlebihan mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

Ia memperingatkan agar analisis ekonomi tidak disampaikan secara sembarangan atau sekadar “asal bunyi” (asbun).

Menurut Purbaya, narasi negatif yang berkembang saat ini berpotensi memicu keresahan publik, terutama mengenai ketahanan anggaran negara di tengah fluktuasi harga energi global.“Kalau kita lihat, orang kan ribut-ribut soal anggaran di bawah (kendali) saya katanya akan berantakan. Saya kesal karena mereka hanya menggembor-gemborkan ketakutan,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (26/3).

Secara khusus, ia menyoroti asumsi pihak tertentu yang memproyeksi harga minyak dunia melonjak hingga US$ 120 per barel. Baginya, angka tersebut tidak realistis dan jauh dari kondisi pasar aktual.

Purbaya menjelaskan bahwa saat ini harga minyak dunia berada di kisaran US$ 74 per barel, tidak terpaut jauh dari asumsi APBN yang dipatok sebesar US$ 70 per barel.“Jadi kalau US$ 74, itu cuma naik US$ 4 per barel. Saya bisa tutup dengan gampang melalui beberapa langkah strategis yang kita miliki,” tegasnya.

Purbaya juga menanggapi spekulasi liar mengenai potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pasca-Lebaran. Ia menilai pernyataan tersebut tidak didasari perhitungan matang, sementara pemerintah telah melakukan kalkulasi secara komprehensif.

Meski bersikap keras, Purbaya menegaskan bahwa dirinya tidak anti terhadap kritik. Namun, ia menekankan bahwa masukan harus bersifat rasional dan berbasis data yang valid.“Saya tidak anti-kritik, tetapi jangan bilang dua bulan lagi ekonomi Indonesia akan hancur karena harga minyak US$ 200 per barel. Kalau itu sampai terjadi, seluruh dunia juga akan resesi,” tambahnya.

Sebagai bendahara negara, ia berharap para pengamat menyusun analisis dengan metodologi yang jelas dan menggunakan data historis yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Ekonom yang betul itu menaruh angka berdasarkan estimasi yang jelas dan data historis. Jangan asbun. Kalau tidak mengerti, sekolah lagi,” pungkas Purbaya. (ralian)

Komentar