PGI Tekankan Peran Strategis Gereja, Keluarga, dan Sekolah Hadapi Ideologi Ekstrem pada Anak

Pendidikan26 Dilihat

BeTimes.id– Dunia saat ini tidak lagi sekadar berubah secara linear, melainkan eksponensial. Perkembangan teknologi digital yang pesat, pergeseran nilai sosial, hingga tekanan psikologis yang meningkat menempatkan anak dan keluarga dalam pusaran perubahan yang melelahkan.

Kondisi ini berdampak nyata pada tereduksinya kesehatan mental dan spiritual generasi muda. Fenomena kecemasan, depresi, isolasi sosial, hingga tindakan melukai diri menjadi sinyal bahwa banyak remaja sedang bergumul dalam “kesunyian” yang sering kali luput dari pandangan orang dewasa.

Merespons hal tersebut, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, menegaskan bahwa gereja harus hadir sebagai komunitas terapeutik. Hal ini disampaikannya dalam webinar hari kedua yang diinisiasi oleh Biro Keluarga dan Anak (BKA) PGI, Selasa (31/3), bertajuk “Mendampingi Anak dan Remaja Menghadapi Ideologi Ekstrem: Peran Keluarga, Gereja, dan Sekolah”.

“Dalam perspektif teologi pastoral, gambaran Alkitab tentang Allah sebagai penyembuh (Yhwh Rophe’) memberikan fondasi teologis yang esensial bagi pelayanan gereja terhadap keluarga dan anak di tengah perubahan sosial kontemporer,” tandas Pdt. Jacky.

Tiga Pilar Kesiapan Gereja
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peran gereja sebagai komunitas penyembuh harus ditopang oleh tiga pilar empiris: institusi, pelayan, dan umat. Pdt. Jacky mengajak gereja-gereja untuk merefleksikan kesiapan mereka.

Komentar