BeTimea.id– Lantai 8 Rumah Duka Carolus, Jakarta Pusat, siang itu tidak hanya menampung duka. Di antara barisan karangan bunga yang datang dari berbagai penjuru—mulai dari Pdt. Stephen Tong, PGI, hingga Perkantas udara justru bergetar oleh sebuah nyanyian yang penuh tenaga. “Api Injili,” lirik itu membubung, bukan sekadar sebagai pelengkap liturgi, melainkan melodi yang merangkum seluruh detak jantung sosok yang terbujur tenang dalam peti putih: Pdt. Dr. Solfianus Reimas.
Pdt. Nus Reimas, begitulah ia disapa dengan penuh kehangatan, baru saja menuntaskan langkah terakhirnya di dunia pada 1 Mei 2026. Dalam ibadah pelepasan yang dipimpin oleh GPIB Jemaat “Menara Iman” Duren Sawit, Senin (4/5), kesedihan bersalin rupa menjadi penghormatan yang agung.
Tokoh-tokoh kunci seperti Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, dan Ketua Umum PGLII, Pdt. Ronny Mandang, berdiri tegak di sana, melepas sang “raksasa” yang lahir dari tanah Tual, Maluku, 74 tahun silam.
Dari Tual ke Panggung Nasional
Naratif hidup Pdt. Nus adalah sebuah kesaksian tentang bagaimana iman mampu mengubah “ketidakmungkinan” menjadi kenyataan.
Kehilangan sosok ibu sejak duduk di bangku kelas 2 SMP bukanlah akhir baginya; itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang seorang pemuda dari Timur Indonesia yang tak pernah bermimpi akan menginjakkan kaki di riuhnya ibu kota, apalagi menjadi tokoh yang diperhitungkan di kancah nasional.
Selama puluhan tahun pelayanannya, terutama melalui LPMI dan PGLII, Pdt. Nus menanamkan satu prinsip yang tak tergoyahkan: ketergantungan mutlak pada Sang Pencipta.
“Saya sejak dulu tak pernah digaji di LPMI untuk melayani, namun Tuhan cukupkan apa yang saya butuhkan,” kenangnya dalam sebuah kesempatan semasa hidup. Kalimat itu bukan sekadar retorika, melainkan janji yang ia hidupi setiap hari. Baginya, mata dan telinga manusia terbatas, namun kasih Tuhan melampaui segala nalar bagi mereka yang berharap.
Garis Finis yang Gemilang
Iring-iringan kemudian bergerak menuju TPU Kampung Pulo, Jakarta Selatan. Di sana, di bawah langit Jakarta, babak penutup dari pengabdian panjang sang pendeta resmi dituliskan.
Petikan dari 2 Timotius 4:7 menggema, mengukuhkan bahwa Pdt. Nus telah menyelesaikan pertandingan dengan baik, mencapai garis akhir, dan yang terpenting, ia tetap memelihara imannya.
Bagi Pdt. Nus, hidup adalah sebuah pergumulan yang harus dihadapi dengan kepala tegak dan pengharapan yang tak kunjung padam. Ia percaya bahwa jalan sesulit apa pun akan selalu menemukan tuntunan bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.
Kini, sosok yang sempat merayakan 46 tahun pelayanannya pada 2019 lalu itu telah beristirahat dari lelahnya dunia. Ia meninggalkan warisan semangat “Api Injili”—sebuah nyala yang ia jaga selama hidupnya, dan kini ia titipkan untuk terus berkobar dalam sanubari jemaat serta rekan-rekan pelayan yang ditinggalkannya.
Selamat jalan, Pdt. Nus Reimas. Engkau tidak hanya sampai ke garis finis; engkau melaluinya dengan kemenangan yang gemilang. (ralian)










Komentar