Menenun Harapan di Balik Angka Devisa, Catatan dari Meja Menteri PPMI

Umum29 Dilihat

BeTimes.id– Di salah satu sudut ruang kantor BP2MI, Jakarta, Senin siang itu (4/5), sebuah percakapan penting sedang dirajut. Di satu sisi meja, duduk Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI), Mukhtarudin.

Di hadapannya, rombongan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) yang dipimpin Prima Surbhakti datang membawa kegelisahan sekaligus solusi.

Pertemuan itu bukan sekadar formalitas birokrasi. Ada beban besar yang dibahas: nasib para “pahlawan devisa”.Investasi di Atas Kertas dan JiwaBagi Prima Surbhakti, pekerja migran bukan sekadar angka statistik dalam tabel pertumbuhan ekonomi.

Meski remitansi mereka terus memecahkan rekor dan menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negeri, ada celah lebar yang harus diisi: kualitas dan perlindungan.”Kami ingin ikut berinvestasi pada manusia,” tutur Prima dengan nada mantap.

Di depan sang Menteri, ia membedah peta jalan GMKI dalam membangun ekosistem yang berintegritas. Ia memaparkan mimpi tentang kader-kader yang tak hanya berbekal nyali, tapi juga kompetensi.

Melalui GMKI Digital Learning, mereka melatih kader memahami bahasa Mandarin hingga seluk-beluk hukum agraria dan maritim. Ada pula GMKI Award bagi mereka yang mengejar gelar master dan doktor, serta sebuah ambisi digital bernama Superweb aplikasi yang diproyeksikan menjadi kompas data nasional bagi ribuan anggota mereka.

Luka di NTT dan Jeratan ScammingNamun, narasi keberhasilan ekonomi selalu punya sisi kelam yang menghantui. Prima terdiam sejenak saat membawa isu kerakyatan ke tengah ruangan.

Ia berbicara tentang tangis di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih menjadi episentrum Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Ia juga berkisah tentang anak-anak muda di Sumatera Utara dan Sulawesi Utara yang terjebak dalam lubang hitam penipuan online scamming.

Isu kemanusiaan ini menjadi “alarm” yang berbunyi nyaring di ruang pertemuan tersebut. Sebuah pengingat bahwa di balik megahnya angka devisa, ada nyawa yang harus dilindungi dari tangan-tangan predator perdagangan manusia.

Gayung Bersambut: Sebuah Pakta Baru

Menteri Mukhtarudin menyimak dengan saksama. Sebagai alumnus ITB yang terbiasa dengan pola pikir solutif, ia tak butuh waktu lama untuk menyambut uluran tangan anak-anak muda ini.

Baginya, BP2MI tidak bisa berjalan sendiri dalam menjaga benteng pertahanan pekerja migran.Sebuah komitmen pun lahir. BP2MI dan GMKI sepakat untuk melangkah lebih jauh melalui Nota Kesepahaman (MoU).

Bukan sekadar tanda tangan di atas materai, tapi sebuah kerja nyata.”Kami akan menyediakan sosialisasi dan jalur informasi pekerjaan luar negeri yang valid bagi kader GMKI,” ujar Mukhtarudin.

Lebih dari itu, ia menjanjikan pelatihan kompetensi dan kewirausahaan agar mereka tak hanya menjadi pekerja, tapi juga calon pengusaha.

Sore itu, pertemuan berakhir dengan jabat tangan erat. Di antara riuh rendah Jakarta, sebuah aliansi antara pemerintah dan masyarakat sipil baru saja diperkuat. Tujuannya satu: memastikan bahwa mereka yang pergi mencari nafkah ke negeri orang, berangkat dengan martabat dan pulang dengan selamat. (ralian)

Komentar