Di Balik Angka Rp9.920 Triliun: Ambisi, Utang, dan Keyakinan Menkeu Purbaya

Nasional106 Dilihat

BeTimes.id– Di dalam ruang pengarahan media di jantung Jakarta Pusat, Senin siang itu, udara terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Di layar proyektor, sebuah angka terpampang jelas: Rp9.920,42 triliun.

Sebuah angka yang nyaris menyentuh plafon psikologis sepuluh ribu triliun rupiah.Bagi sebagian besar orang, angka itu adalah deretan nol yang mencemaskan. Dalam tiga bulan pertama tahun 2026 saja, “gunung” utang Indonesia telah tumbuh sebesar Rp282,52 triliun.

Namun, bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, angka-angka tersebut bukanlah hantu yang perlu ditakuti, melainkan bukti dari sebuah manajemen yang ia klaim sangat hati-hati.

Dengan nada bicara yang lugas—bahkan sesekali menyentil Purbaya mencoba mendinginkan kegelisahan publik. Ia bersandar pada satu indikator kunci 40,75%. Itulah rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).”Kalau kita lihat acuan yang paling ketat di Eropa, rasio utang terhadap PDB berapa? 60 persen,” ujar Purbaya dengan nada retoris.

“Kita masih jauh, kenapa lo nanya lagi? Masih aman.”Ruang Tengah yang Masih LonggarPurbaya tidak bicara tanpa dasar hukum. Undang-Undang Keuangan Negara memang mematok batas aman di angka 60%. Di atas kertas, Indonesia memang masih memiliki “ruang napas” yang cukup lebar sebelum memasuki zona merah.

Komentar