BeTimes.id– Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, memberikan peringatan keras terhadap pihak-pihak yang mencoba bermain dalam pelaksanaan program prioritas nasional.
Dalam pembukaan Kongres VII Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di Jakarta, Kamis (30/4). Dudung menegaskan komitmennya untuk memastikan visi Presiden Prabowo Subianto sampai ke tangan rakyat tanpa distorsi.
Dudung menjelaskan bahwa KSP memegang peran krusial sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah. Selain itu, lembaga ini berfungsi sebagai instrumen monitoring untuk memastikan program unggulan, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat, berjalan sesuai rel yang ditetapkan.
“Kalau tidak benar pelaksanaan di lapangan, akan saya babat nanti,” tegas Dudung. Pernyataan ini menunjukkan sikap tanpa kompromi terhadap potensi praktik maladministrasi atau penyelewengan yang dapat menghambat distribusi kesejahteraan bagi masyarakat.
Di hadapan para cendekiawan, mantan KSAD ini juga menyoroti pentingnya penguatan wawasan kebangsaan. Menurutnya, ketahanan nasional Indonesia diuji oleh ketidakpastian kondisi global dan konflik mancanegara. Keberagaman suku, bahasa, dan agama di Indonesia dipandang sebagai kekuatan, asalkan nilai luhur bangsa tetap dijaga.
Ia merinci bahwa nilai-nilai seperti gotong royong, rela berkorban, dan nasionalisme bukan sekadar slogan, melainkan modal sosial untuk menjaga persatuan. “Kita harus mendahulukan kepentingan umum dan tetap optimis dalam bingkai kekeluargaan,” tambahnya.
Lawan Disinformasi di Era Post-Truth
Selain masalah teknis program, Dudung menyoroti tantangan di ruang digital. Ia mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap fenomena post-truth, di mana narasi bohong yang diproduksi secara masif seringkali dianggap sebagai kebenaran.
Ia mengajak publik untuk lebih cerdas dan selektif dalam mengonsumsi informasi di media sosial agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menyesatkan. “Mari mata dan telinga kita pasang untuk hal-hal positif, jangan terbawa informasi yang memecah belah,” imbaunya.
KSP menutup arahannya dengan menekankan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya bertumpu pada indikator kecerdasan intelektual semata. Kualitas moral dan akhlak warga negara justru menjadi fondasi utama yang menentukan apakah sebuah negara mampu bertransformasi menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. (ralian)






Komentar