Lonceng Duka dari Merauke: Saat Senior GMKI Menggugat ‘Pesta’ di Atas Tanah Mama

Uncategorized90 Dilihat

“Tanah ini bukan sekadar komoditas. Bagi Orang Asli Papua, tanah adalah ‘Mama’. Jika Mama dianiaya dan dieksplorasi di luar batas, ia akan menjerit,” tutur Pendeta Priyatno dengan nada rendah namun tajam.

Lingkaran Setan Pembangunan
Kritik tajam mengalir dari Mindo Sianipar. Politisi senior yang telah lima periode duduk di kursi DPR RI ini melihat ada pola kegagalan yang sengaja dipelihara. Dari era MIFEE di zaman Presiden SBY, berlanjut ke Presiden Jokowi, hingga kini di bawah Presiden Prabowo, narasi pembangunan di Papua dinilai masih berwajah sama: ekstraktif dan meminggirkan.

“Kayu-kayu terus ditebangi, hutan digunduli, masyarakat asli terusir. Kita menghamburkan APBN untuk infrastruktur yang sebenarnya hanya melayani kebutuhan proyek, bukan kebutuhan rakyat,” seru Mindo dengan nada geram.

Di sudut lain, Maruap Siahaan melihat fenomena ini sebagai wajah baru kolonialisme yang lahir dari rahim bangsa sendiri. Ia menyoroti bagaimana konsep “tanah kosong” seringkali menjadi alat bagi negara untuk merampas wilayah adat, mulai dari ujung Papua hingga ke pelosok Danau Toba.

“Siapapun yang melarang orang menonton atau mengetahui kenyataan ini, berarti mereka adalah bagian dari neokolonialisme itu sendiri. Jika kita takut bersuara hari ini, keturunan kita yang akan menjadi korban berikutnya,” tegas Maruap.

Komentar