“Sidang kabinet yang dipimpin Wapres Megawati—saat itu Gus Dur sedang di Thailand—pada 10 Mei 2000 memutuskan bahwa rayon saja yang dihentikan; produksi pulp boleh jalan terus,”ungkap mantan Aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung itu.
Maruap mengemukakan, enam hari berselang Menteri Perdagangan dan Industri Rini MS Suwandi mengizinkan korporasi beroperasi kembali.
Diketahui, setelah berhenti 4 tahun (sejak 19 Maret 1999 hingga 6 Februari 2003), PT Indorayon Inti Utama yang berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL) sejak 15 November 2000 kembali menjalankan kegiatannya yang sangat eksesif.
Menurutnya hanya berganti kesing (bungkus) belaka, rupanya. Kejahatan berdimensi ekologi, ekonomi, sosial, hukum, keuangan, dan yang lain terus dilakukannya dan dampaknya sungguh luar biasa dalam 35 tahun.
Sejak bersebutan TPL, mereka memang tidak memproduksi rayon di pabrik Sosor Ladang. Yang dilakukannya adalah mengirimkan pulp ke pabriknya di Cina untuk dirayonkan.
Dari sana dan dari pabrik mereka di sejumlah negara, serat panjang itu disalurkan ke industri tekstil, sepatu, dan tas global.










Komentar