Dosen filsafat pada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, Selasa (3/2), berpendapat, kemiskinan ekstrem seringkali membunuh lebih awal imajinasi anak-anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem itu tidak tahu tujuan hidup mereka.
“Dalam keadaan seperti ini, anak-anak kecil yang cerdas lebih mudah mengakses informasi yang tidak tersaring di media sosial. Mereka bisa saja meniru keputusan ini (bunuh diri) dari tayangan di media sosial,” kata Leonardus. (ralian)
