BeTimes– Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperketat upaya pengendalian populasi ikan sapu-sapu di seluruh wilayah ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan seluruh walikota untuk turun tangan langsung dalam membasmi spesies invasif yang kian meresahkan tersebut.
Pramono mengungkapkan akan segera menggelar rapat khusus bersama jajaran wali kota untuk menyusun strategi penanganan yang terkoordinasi.”Dalam waktu dekat, Pemerintah DKI akan mengadakan rapat khusus mengenai ikan sapu-sapu. Saya meminta seluruh wali kota untuk menangani masalah ini secara serius,” ujar Pramono saat meninjau wilayah Jakarta Timur, Selasa (14/4).
Menurut Pramono, ikan yang berasal dari Amerika Selatan ini memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa dan bersifat predator bagi ikan lokal. “Mereka sangat kuat dan memangsa pakan ikan lokal seperti wader dan spesies asli lainnya. Selain itu, mereka merusak infrastruktur karena kerap membuat lubang sarang di bantaran sungai yang memicu kerusakan tanggul,” tambahnya.
Pastikan Ikan Mati Sebelum DikuburMenindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menekankan pentingnya prosedur pemusnahan yang tepat.
Ia memastikan bahwa setiap ikan sapu-sapu yang tertangkap harus dipastikan mati sebelum dikubur di lokasi yang aman.”Karena daya tahannya yang tinggi, kami harus memastikan ikan tersebut benar-benar mati sebelum dikubur.
Lokasi penguburan pun dipilih yang representatif agar bangkai ikan tidak disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab,” tegas Hasudungan, Senin (13/4).
Ia mencontohkan penanganan serupa telah dilakukan pada hasil tangkapan di Kali Cideng, depan Plaza Indonesia, beberapa waktu lalu.
Dukungan terhadap langkah Pemprov DKI juga datang dari para ahli. Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, menjelaskan bahwa berdasarkan Permen KP Nomor 19 Tahun 2020, ikan sapu-sapu resmi dikategorikan sebagai spesies invasif yang mencemari perairan.
“Ikan ini merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai, dan memiliki laju reproduksi yang sangat tinggi,” jelas Gema, Rabu (15/4).
Ia juga memperingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan ini. “Dagingnya diduga kuat mengandung logam berat karena habitatnya di sungai yang tercemar, sehingga berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi jangka panjang.
“Senada dengan Gema, peneliti BRIN lainnya, Haryono, menilai penangkapan secara manual adalah metode paling aman dan efektif saat ini dibandingkan metode kimiawi. Namun, ia menekankan bahwa aksi ini harus dilakukan secara intensif dan periodik.
“Upaya Jakarta ini patut menjadi role model bagi daerah lain dalam menangani Jenis Ikan Asing Invasif (JAI). Agar populasi terkikis habis, diperlukan edukasi berkelanjutan dan keterlibatan seluruh stakeholder secara konsisten,” pungkas Haryono. (ralian)







Komentar