Menenun Kembali Benang yang Terurai: Ikhtiar Membakukan Aksara Batak di Era Digital

Daerah22 Dilihat

BeTimes.id– Di jagat maya, aksara Batak kini sedang mekar. Dari unggahan Instagram hingga status Facebook, jemari para pegiat aksara giat menorehkan garis-garis surat Batak dengan penuh kebanggaan.

Namun, di balik keriuhan itu, tersimpan sebuah kerisauan yang sunyi: tidak ada satu pun “jangkar” yang mengikat mereka.

Semua menulis atas nama cinta, namun dengan aturan yang berbeda-beda.Antara Tradisi Lisan dan Guru yang “Terpaksa”Selama ini, pengetahuan tentang aksara Batak ibarat potongan mosaik yang berserakan.

Ada yang mewarisinya dari bisikan orang tua sebagai tradisi lisan yang sulit dilacak referensinya. Ada pula yang mempelajarinya di sekolah, namun menemui kenyataan pahit. Di ruang kelas, aksara Batak sering kali menjadi “anak tiri”.

Tak jarang, seorang guru lulusan Pendidikan Kewarganegaraan (PPKN) harus memikul beban mengajar aksara Batak karena ketiadaan tenaga ahli.”Ada kesan terpaksa,” gumam para pemerhati.

Dengan buku referensi seadanya, proses belajar-mengajar pun berjalan di atas fondasi yang rapuh.

Tanpa pemahaman mendalam tentang kaidah pemenggalan suku kata bahasa Latin seperti cara mengeja ‘inggiringgir’ atau ‘undungundung’ yang benaraksara Batak mustahil bisa dituangkan secara akurat.

Masalah kian pelik saat kita memasuki belantara media sosial. Ketika seseorang belajar melalui pustaha laklak digital atau font papan ketik (keyboard) ponsel, mereka sering kali menemukan perbedaan krusial.

Bentuk huruf hingga ligatur (sambungan antarhuruf) yang tampil di layar kerap kali bertabrakan dengan apa yang diajarkan di bangku sekolah.

Ketiadaan jembatan komunikasi antara para pegiat di lapangan dengan akademisi Program Studi Sastra Batak membuat standar penulisan kian bias.

Jika dibiarkan, generasi mendatang bukan lagi mewarisi peradaban, melainkan kebingungan yang terstruktur.

Membangun Wadah: Batak Center dan Gagasan Lembaga ResmiMenyadari urgensi ini, Departemen Literasi, Aksara, dan Bahasa dari BATAK CENTER mengambil langkah berani. Di bawah payung UU RI No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, mereka merasa inilah saatnya aksara Batak memiliki “rumah” resmi.

Lembaga Aksara (dan Bahasa) Batak yang diimpikan bukanlah sebuah menara gading. Ia diniatkan menjadi panduan hidup yang mengikat secara regulatif, namun tetap terbuka terhadap perubahan zaman.

Sebuah konvensi yang akan menjadi kompas bagi seluruh puak Batak, baik yang berada di Bona Pasogit (tanah kelahiran) maupun mereka yang berkelana di tanah diaspora.Menuju Musyawarah NasionalLangkah pertama telah dipancang.

Sebuah diskusi kelompok terpimpin atau Focus Group Discussion (FGD) mulai dirancang. Dipandu oleh konsultan bahasa, Bapak Rindu Parulian Simanjuntak, FGD ini akan melibatkan 30 hingga 50 pegiat dari tingkat lokal hingga internasional.

Metodenya pun adaptif. Dimulai dari percakapan intens di grup WhatsApp dan Zoom, suara-suara dari berbagai penjuru akan ditampung tanpa perdebatan yang menjatuhkan.

Puncaknya, sebuah pertemuan hybrid akan digelar untuk menyatukan visi.Di bawah kepemimpinan Dion Passius Sihotang dan jajaran pengurus lainnya untuk masa bakti 2024-2029, BATAK CENTER menargetkan terbentuknya sebuah Lembaga Aksara dan Bahasa Batak Raya.

Lembaga ini nantinya akan menjadi mitra strategis Pemerintah melalui Pusat Bahasa, memastikan bahwa surat Batak tidak hanya bertahan sebagai kenangan di atas kulit kayu, tetapi hidup dan tegak dalam standar yang diakui dunia.Ini bukan sekadar soal menulis huruf; ini adalah soal menjaga ruh peradaban Batak agar tetap terbaca oleh masa depan.

Daftar Pengampu Departemen Literasi, Aksara, dan Bahasa BATAK CENTER (2024-2029) mereka Ketua Dion Passius Sihotang, Wakil Ketua didapuk Rindu Parulian Simanjuntak, Jordan Tinambunan, Vitus Polikarpus Surung Simanullang, dan Sekretatris Marno Siagian. (ralian)

Komentar