Lawan atau Padam
Diskusi sore itu tidak berakhir sebagai diskusi intelektual belaka, melainkan sebuah seruan aksi. Edward Tanari, yang akrab disapa Edo, mengingatkan hadirin tentang semangat Reformasi 1998. Baginya, iming-iming kesejahteraan dari pemerintah adalah fatamorgana jika dibayar dengan penghancuran martabat manusia.
“Hanya satu kata: Lawan! Jangan berhenti hanya karena diberi janji,” serunya disambut anggukan setuju dari peserta lainnya seperti Rita Tiar Sidabutar dan Hotma Uli yang merasakan kesedihan serupa atas kegagalan negara memanusiakan rakyatnya.
Sinar matahari mulai meredup di Salemba, namun semangat di dalam ruangan itu justru memanas. Pertemuan itu ditutup bukan dengan doa yang tenang, melainkan dengan sebuah deklarasi yang menggetarkan dinding-dinding kantor PGI.
“Papua… Bukan Tanah Kosong!”
Pekikan itu bukan sekadar slogan, melainkan sebuah pengingat bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi dan ambisi ketahanan pangan, ada manusia yang sedang berjuang mempertahankan detak jantung terakhir hutan mereka. (ralian)








Komentar