Menanti Keajaiban Era Habibie Saat Rupiah Tercekat di Angka Rp 17.600

Nasional442 Dilihat

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengingatkan bahwa badai yang menghantam Indonesia hari ini memiliki anatomi yang sepenuhnya berbeda dengan badai tahun 1998.”Ada prinsip, apa yang mendadak naik akan mendadak turun. Fenomena ini terjadi juga terkait dengan nilai tukar mata uang dan indeks saham,” ujar Wijayanto saat ditemui wartawan, Minggu (17/5).

Wijayanto mengenang, pasca-1998 rupiah terjun bebas dari Rp 2.500 ke atas Rp 16.000 per dollar AS dalam waktu yang sangat singkat.

Pemicu utamanya saat itu bukanlah fundamental ekonomi semata, melainkan runtuhnya faktor psikologis hilangnya kepercayaan (trust) dunia internasional terhadap Indonesia yang sedang diamuk krisis politik.”Pada saat itu Indonesia diyakini akan hancur secara politik dan ekonomi,” kenangnya.

Namun, begitu badai politik mereda dan situasi mulai kondusif, kepercayaan investor kembali pulih secepat ia pergi. “Faktanya, kondisi membaik, trust terbangun, faktor psikologis menghilang, sehingga rupiah bertengger di level Rp 6.000-an per dollar AS. Ini angka yang fair secara fundamental,” jelas Wijayanto.

Jeratan Masalah FundamentalHari ini, ceritanya sama sekali berbeda. Pelemahan rupiah saat ini tidak dipicu oleh kepanikan psikologis sesaat, melainkan oleh penyakit kronis pada fundamental dan struktural ekonomi kita sendiri.”Kondisi saat ini lain, pelemahan didominasi oleh faktor fundamental, yaitu fiskal, neraca pembayaran, dan belum adanya respons kebijakan pemerintah yang dianggap tepat dan kredibel untuk mengatasi masalah,” papar Wijayanto.

Komentar