Presiden Prabowo Puji Sikap Megawati dan Hormati PDIP yang Berada di Luar Pemerintahan

Nasional44 Dilihat

BeTimes.id– Rabu siang itu, 20 Mei 2026, ruang rapat paripurna DPR RI di Senayan diselimuti atmosfer yang tak biasa. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di podium untuk menyampaikan kerangka ekonomi makro dan fiskal tahun 2027 mengejutkan banyak pihak.

Andreas Hugo Pareira, politikus senior PDIP sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII, bahkan tak bisa menyembunyikan rasa herannya. Baginya, momen seorang presiden turun langsung mengantarkan dokumen anggaran ke paripurna adalah pemandangan yang langka, tanda bahwa ada “situasi khusus” yang sedang dianyam.

Namun, kejutan sesungguhnya bukan sekadar kehadiran fisik sang Presiden, melainkan apa yang keluar dari lisan Prabowo saat ia mulai meluar dari teks pidato formalnya.

Di depan para legislator, Prabowo memilih untuk membuka lembaran masa lalu sebuah fragmen personal tentang utang budi dan politik adil luhung.

Prabowo bercerita tentang masa-masa sulitnya dahulu, jauh sebelum ia menduduki kursi nomor satu di republik ini. Dengan nada bicara yang blak-blakan, ia mengenang dirinya yang saat itu “luntang-lantung” tanpa kekuasaan.

Di titik itulah, peran Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, hadir menorehkan kesan mendalam.”Tenang saja, karena waktu saya nggak berkuasa, Ibu Mega juga bantu saya di bidang ekonomi,” kenang Prabowo, suaranya menggema di ruang sidang.

“Saya mau terbuka, saya nggak berkuasa waktu itu, alias luntang-lantung lah. Ibu Megawati Soekarnoputri intervensi mengatakan, ‘Kalau memang Prabowo yang menang tender itu, jangan diganggu, diteruskan.’ Saya sekarang ikuti contoh beliau.

“Memori tentang keadilan Megawati di masa lalu itu rupanya menjadi kompas moral bagi Prabowo dalam memimpin kabinetnya hari ini. Ia menceritakan bagaimana baru-baru ini sejumlah menterinya datang menghadap dengan keraguan, meminta petunjuk karena ada sebuah proyek atau tender yang dimenangi oleh pihak berlatar belakang PDIP.

Di hadapan para menteri yang ragu itu, Prabowo menegaskan bahwa warna politik tidak boleh menjegal hak seseorang. “Ayo, Menteri-menteri, benar kan?” seloroh Prabowo di podium, disambut riuh ruang sidang. “Tapi apa jawaban saya? Tidak ada masalah, kalau dia menang, dia menang saja, jangan kita lihat latar belakangnya.

Kalau dia benar, dia menang dengan benar, harus kita berikan.”Hormat untuk Sang Penyeimbang

Pertalian sejarah antara Prabowo dan PDIP memang panjang dan berliku pernah berkoalisi, kerap berhadapan. Kini, saat roda nasib membawa Prabowo ke puncak kekuasaan, PDIP memilih jalan sunyi sebagai satu-satunya fraksi yang berdiri tegak di luar pemerintahan.

Alih-alih memandangnya sebagai duri, Prabowo justru menutup pidatonya siang itu dengan sebuah elegi penghormatan. Ia sadar, narasi gotong royong yang selalu ia dambakan akan terasa “manis” jika semua parpol merapat ke kekuasaan.

Namun, ia juga paham bahwa rasa manis yang berlebihan bisa merusak kesehatan demokrasi.”Saya paham dan mengerti bahwa PDIP berkorban untuk berada di luar pemerintah,” ujar Prabowo dengan nada takzim.

“Memang maunya saya itu gotong royong. Kalau semua partai di pemerintah alangkah manisnya untuk saya, tapi mungkin tidak baik. Setiap pemimpin harus mau dikritik.”Di akhir hari, riuh tepuk tangan di Senayan bukan sekadar merayakan angka-angka ekonomi makro 2027, melainkan sebuah pengakuan atas kedewasaan politik.

Di mimbar itu, Prabowo tidak hanya menyampaikan nota anggaran, ia sedang menunjukkan bagaimana kekuasaan merawat ingatan dan menghormati para pengkritiknya. (ralian)

Komentar