Retak Kolaborasi ‘Pesta Babi’: Antara Hak Identitas Mama Yasinta dan Suara Papua yang Dibela

Berita29 Dilihat

BeTimes.id– Bagi masyarakat adat Malind di Papua, nama Yasinta Moiwend bukan sosok asing. Perempuan adat yang akrab disapa Mama Yasinta ini telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya berdiri di garis depan, menyuarakan hak-hak komunitasnya jauh sebelum kamera film dokumenter mulai merekam.

Namun pada Jumat, 29 Mei 2026, langkah kakinya membawa cerita baru ke ibu kota. Mama Yasinta mendatangi markas Polda Metro Jaya untuk melaporkan Direktur LBH Papua Merauke, Johnny Teddy Wakum. Tuduhannya serius, dugaan pelanggaran data pribadi dan pemanfaatan identitas tanpa izin dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi.

Laporan hukum ini mengejutkan tim produksi, namun direspons dengan kepala dingin dan rasa hormat yang mendalam.

“Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini,” ujar Johnny Teddy Wakum dalam keterangan resminya, Sabtu (30/5).

Teddy, yang paham betul rekam jejak perjuangan Mama Yasinta, meminta masyarakat luas untuk tidak buru-buru menghakimi sang tokoh adat. Di balik ketegangan hukum ini, ada ruang komunikasi yang mendadak terputus. Teddy mengaku, pihaknya mendapati jalan buntu saat mencoba menghubungi Mama Yasinta seminggu terakhir.

“Sejak Sabtu, 23 Mei lalu, hingga beliau mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya pada Jumat kemarin, Mama Yasinta belum dapat dihubungi atau ditemui langsung,” ungkap Teddy. Saat ini, timnya masih terus mengetuk pintu keluarga, mencoba mengurai simpul kesalahpahaman yang terjadi.

Teddy berharap badai domestik dalam perjuangan ini bisa segera reda, tanpa menghentikan fokus publik pada isu yang lebih besar di Bumi Cendrawasih. “Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari kita melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di Tanah Papua.”

Sikap senada juga datang dari Dandhy Laksono, sutradara di balik layar Pesta Babi. Melalui pesan singkat pada Sabtu siang, jurnalis investigasi senior ini menegaskan bahwa ruang bagi hak-hak personal Mama Yasinta tetap menjadi prioritas utama mereka.

“Kami menghormati pilihan Mama Yasinta,” tulis Dandhy, “sebagaimana kami menghormati hak setiap orang untuk tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Papua.”

Kini, di antara lembaran berkas laporan polisi dan gulungan pita seluloid Pesta Babi, sebuah dialog sedang dinanti untuk menyelamatkan esensi dari solidaritas itu sendiri. (ralian)

Komentar