Membujuk Warga Kebon Kosong yang Enggan Pergi “Ari-ari Kami Ditanam Di Sini Bang”

Pemerintahan469 Dilihat

Ikatan Emosional yang Membakar Logika

Bagi Pemprov DKI, hunian vertikal adalah solusi mutlak untuk menyudahi sejarah panjang kebakaran di kawasan padat ini. Berdesakan di gang sempit dengan kabel listrik yang saling silang bak benang kusut adalah bom waktu.

Benar saja, survei pemerintah mencatat 95 persen kebakaran di Jakarta dipicu oleh korsleting listrik.”Saya minta maaf, kita tahu situasinya. Kadang di dalam rumah, satu stopkontak dicolok sepuluh charger HP, belum lagi kompor. Akibatnya panas, lalu korslet,” kata Rano, mengingatkan akar petaka yang kini membuat 679 jiwa telantar.

Namun, mengetuk hati warga untuk pindah nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Di tengah puing-puing itu, sebuah dialog emosional terjadi antara sang Wakil Gubernur dan beberapa korban yang kehilangan segalanya.

“Aduh Bang, kita lahir di sini, Bang. Bahkan yang namanya ari-ari kita ditanam di sini,” tutur seorang warga, lirih.

Sebuah kalimat sederhana yang menggambarkan betapa kuatnya akar sejarah dan ikatan batin mereka dengan tanah kelahiran, mengalahkan rasa takut akan ancaman bencana yang mengintai setiap saat.

Rano, yang juga anak betawi asli, tersenyum maklum. Ia memahami betul sentimen itu. Namun, keselamatan jiwa harus berada di atas romantisasi masa lalu.”Eh, saya ini lahir di Kemayoran, di Kepu. Ari-ari saya juga ditanam di Kemayoran. Masa kita mau berjubel-jubel terus tinggal di sini?” balas Rano, mencoba mencairkan suasana sekaligus menyuntikkan logika.

Bagi Rano, mengajak pindah ke rusun bukan berarti merendahkan kualitas hidup warga, melainkan memanusiakan mereka di tempat yang jauh lebih layak, bersih, dan aman.

Titik Terang di Pengungsian Lapangan Yusuf HamkaSementara obrolan tentang masa depan hunian bergulir, penanganan darurat di Lapangan Yusuf Hamka, Jalan Benyamin Suaeb, terus berjalan.

Lapangan itu kini berubah menjadi kota tenda. Tiga tenda raksasa dari Dinas Sosial DKI berdiri kokoh, menampung ratusan kepala keluarga dari dua RW yang terdampak.

Di sudut pengungsian, anak-anak mulai mendapat dukungan psikologis untuk memulihkan trauma, sementara dapur umum sibuk mengepulkan asap untuk makan siang warga.

Ratusan selimut, matras, dan terpal telah dibagikan oleh BPBD, PMI, dan Baznas untuk sekadar menghalau dinginnya malam yang akan datang.

Sebelum berpamitan, Rano sempat menyampaikan salam dari Gubernur Pramono Anung yang saat ini sedang berada di Madinah, Arab Saudi.

“Beliau telepon saya, kirim salam kepada masyarakat, mudah-mudahan sabar menghadapi musibah ini.”Mengenai pembangunan kembali rumah warga, Pemprov DKI berjanji tidak akan tinggal diam, meski semuanya butuh proses panjang.

“Kalau membantu bangun rumah kan relatif, tapi membantu anggaran pasti. Itu nanti kita bicarakan,” pungkas Rano.Siang itu, Rano Karno meninggalkan Kemayoran dengan sebuah pekerjaan rumah yang besar.

Memadamkan api di Kebon Kosong hanya butuh waktu tujuh jam dengan 35 unit mobil damkar. Namun, memadamkan ketakutan warga untuk membuka lembaran baru di rumah susun, membutuhkan waktu dan kesabaran yang jauh lebih lama. (ralian)

Komentar