Oleh: Timboel Siregar
SEJARAH mencatat pertengahan Juni 1998 sebagai salah satu periode paling kelam bagi perekonomian Indonesia. Badai krisis moneter yang bermula dari jatuhnya mata uang Baht di Thailand menular bak virus, merontokkan Peso Filipina, Ringgit Malaysia, hingga akhirnya membuat Rupiah babak belur hingga menyentuh level Rp 16.500 per dolar AS.
Saat itu, biang keroknya jelas, kebringasan para spekulan mata uang global. Namun, mari kita tengok apa yang terjadi hari ini. Rupiah kembali bergerak menjauh dari nilai idealnya, terus melemah, dan menciptakan kecemasan massal.
Bedanya, jika dulu musuh yang dihadapi berada di luar sistem yaitu para spekulan—hari ini musuh terbesar Rupiah justru tampaknya lahir dari dalam rumah sendiri, ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan terkikisnya kepercayaan pasar.
Intervensi Dulu vs. Pembiaran SekarangPada medio 1997, Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Kita memiliki Cadangan Devisa (Cadev) sebesar US$ 21 miliar jumlah yang sangat perkasa kala itu karena setara dengan 5 bulan pembiayaan impor.
Demi menahan kejatuhan Rupiah, peluru-peluru devisa itu digelontorkan tanpa ragu.Catatan menunjukkan, pada 21 hingga 23 Juli 1997, BI melakukan intervensi agresif dengan melepas US$ 1,2 miliar. Tak berhenti di situ, pada 6 Agustus kembali dilepas US$ 650 juta, dan berlanjut pada 14 Agustus sebesar US$ 500 juta.








Komentar