BeTimes.id– Siang itu, suasana di Gedung Parkir A Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, riuh oleh percakapan lirih dan tawa canggung. Puluhan karyawan eks Hotel Sultan memadati Posko Alih Kelola yang didirikan Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) GBK.
Di balik tenda berwarna biru, kursi-kursi tunggu penuh sesak. Mereka datang bukan untuk tamu, melainkan membawa map berisi riwayat hidup, lembar kontrak, slip gaji, dan dokumen ketenagakerjaan, bukti sahih bahwa mereka pernah menggantungkan hidup di hotel yang baru saja dieksekusi itu.
Satu per satu, nama mereka dipanggil. Mereka harus menempuh proses wawancara singkat dengan petugas PPK GBK, sebuah formalitas yang bagi mereka adalah gerbang menuju kepastian.
Menitipkan Harapan pada Formulir
Adri (28) adalah salah satunya. Sembari menunggu giliran, ia menceritakan pengalamannya menjalani wawancara yang terasa seperti kembali melamar pekerjaan. “Di dalam ditanyai soal sistem kerja, gaji, hingga skill yang saya punya,” ujarnya.
Bagi Adri, status pekerjaan bukanlah isu utama. “Habis ini belum tahu bagaimana, semoga bisa kerja lagi di sini. Sama GBK tidak apa-apa, sama siapa saja saya mau, yang penting bisa kerja,” tambahnya dengan nada penuh harap.
