Ia menyebutkan, selama ini korban perundungan dianggap lebih lemah dari yang lain sehingga menjadi sasaran empuk untuk di-bully.
“Mereka yang selama ini menjadi korban perundungan itu kan yang powerless, yang secara power dianggap lebih lemah dari yang lain. Kalau kita mengembangkan sikap yang lebih humanis, maka kita bisa mengembangkan budaya saling menerima di antara semua insan,” ucapnya.
Itu sebabnya, lanjut Mu’ti, bimbingan dan spiritualitas menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya kekerasan di sekolah.
“Tujuannya membangun generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Nah ini yang coba kita bangun, tidak selalu harus sekolah saja, kita ingin partisipatif, ya, melibatkan orang tua, melibatkan sesama murid,” tandas Mu’ti.
Mu’ti juga berharap agar ada duta antikekerasan di sekolah-sekolah yang dapat menjadi pemengaruh atau influencer di antara sesama pelajar.
“Nanti akan menjadi semacam influencer di kalangan sesama pelajar bagaimana mereka ini membina relasi yang lebih saling menghormati, relasi yang lebih terbuka, dan sekali lagi saling menerima semua murid dengan berbagai perbedaan,”ujar Mu’ti. (ralian)






Komentar