Kehangatan di Kraton Kilen, Saat Megawati dan Sri Sultan Merajut Cerita Lewat Semangkok Wedang Semlo

Nasional73 Dilihat

BeTimes.id– Malam di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat terasa begitu hangat pada Jumat (22/5). Tepat pukul 19.15 WIB, Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, hadir membawa serta kehangatan keluarga besarnya ke kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Langkah kaki Megawati dan rombongan disambut langsung Sri Sultan HB X bersama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Senyum ramah mengembang saat kedua tokoh bangsa ini saling menjabat tangan.

Tak sekadar pertemuan formal, malam itu adalah ruang bagi kebersamaan dua keluarga besar. Sri Sultan dengan hangat memperkenalkan putrinya, GKR Condrokirono dan GKR Bendara, serta sang menantu, KPH Purbodiningrat.

Di sisi lain, Megawati tampak didampingi sang putra M. Prananda Prabowo beserta istri, Nancy Prabowo. Terlihat pula sang cucu, Pinka Hapsari, dua keponakannya Puti Soekarno dan Romy Soekarno, hingga politisi senior PDIP, Bintang Puspayoga.

Sebelum melangkah lebih jauh, rombongan dijamu di pendopo dengan wedang semlo minuman hangat beraroma khas racikan pisang, jahe, kayu manis, gula jawa, daun pandan, dan sereh.

Di tengah sesapan minuman favorit Sultan tersebut, atmosfer Kraton kian syahdu berkat alunan gamelan yang samar-samar mengalun, mengisi sudut-sudut pendopo.

Obrolan mengalir begitu cair; sesekali tawa renyah pecah di antara mereka, memecah kesunyian malam, terutama saat celetukan jenaka dari si bungsu GKR Bendara terlontar.

Suasana akrab itu kemudian berpindah ke meja makan Pendopo Kraton Kilen. Di bawah temaram lampu kraton, Sri Sultan dan GKR Hemas duduk satu meja bersama Megawati, Prananda Prabowo, Nancy Prabowo, serta GKR Condrokirono.

Di hadapan hidangan malam, sekat-sekat formalitas seolah luruh.Pertemuan yang semula tampak seperti kunjungan biasa itu rupanya bergulir hingga tiga setengah jam lamanya.

Di balik dinding kraton yang sarat sejarah, malam itu bukan hanya tentang diplomasi atau politik, melainkan tentang cerita, tawa, dan kehangatan yang melintasi generasi. (ralian)

Komentar