Rupiah Tembus Rp 18.000, BEM SI Beri Ultimatum 18 Hari ke Pemerintah dan Ancam “Reformasi Jilid II”

Hukum15 Dilihat

Senada dengan Kapolri, Kepala BIN Herindra juga mengajak semua pihak untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah situasi ekonomi saat ini. “Jangan sampai ada hal yang tidak menguntungkan bagi kita semua ya,” kata Herindra di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (11/6).

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah menyambut baik tuntutan tersebut sebagai bahan evaluasi. Namun, Prasetyo menggarisbawahi bahwa pemulihan ekonomi nasional merupakan proses yang kompleks dan tidak selalu bisa diselesaikan secara instan berdasarkan tenggat waktu tertentu.

“Tidak semua atau tidak segala sesuatu itu bisa dicapai dengan sebuah tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Namun, pemerintah tetap menangkap esensi dan semangat dari tuntutan mahasiswa tersebut untuk terus bekerja keras di sektor ekonomi,” jelas Prasetyo di Kompleks Istana.

Filosofi 18 Hari dan Ketegangan di Lapangan

Sebelumnya, pergerakan mahasiswa telah dimulai oleh aliansi BEM SI lewat aksi bertajuk “Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat” di depan kantor perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah.

Ketua BEM UNS, Kailani Rizqi Pratama, menjelaskan bahwa angka 18 hari dipilih secara simbolis sebagai representasi dari angka pelemahan rupiah yang menyentuh Rp 18.000. Jika tenggat tersebut diabaikan, mahasiswa mengancam akan melakukan aksi penyegelan kantor Kementerian Keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *