Cadangan Beras Capai Rekor 4,7 Juta Ton, Indonesia Mulai Garap Pasar Ekspor Saudi

Nasional137 Dilihat

BeTimes.id– Indonesia mencatatkan sejarah baru dalam sektor pangan dengan melakukan ekspor perdana beras premium sebanyak 2.280 ton senilai Rp 38 miliar ke Arab Saudi, Jumat (17/4).

Langkah ini dilakukan beriringan dengan misi kemanusiaan pemerintah yang menyalurkan bantuan beras sebesar 10.000 ton untuk masyarakat Palestina.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan bukti nyata dari surplus produksi dan kokohnya stok beras nasional.“Ini adalah ekspor perdana ke Arab Saudi.

Momentumnya sangat tepat karena produksi kita sedang meningkat. Selain Saudi, kita juga sudah mulai menjajaki pasar Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina,” ujar Amran.

Membidik Pasar Jemaah dan MukiminEkspor ke Arab Saudi ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 215.000 jemaah haji asal Indonesia.

Namun, pemerintah melihat potensi pasar yang jauh lebih besar ke depannya, mengingat terdapat sekitar 2 juta orang jemaah umrah dan warga negara Indonesia (mukimin) yang menetap di sana setiap tahunnya.

Selain aspek komersial, komitmen kemanusiaan tetap menjadi prioritas. Atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, bantuan 10.000 ton beras dikirimkan ke Palestina untuk membantu meringankan krisis pangan di wilayah tersebut.

Rekor Cadangan Beras NasionalKinerja sektor pertanian tahun 2025 tercatat sangat positif dengan kenaikan produksi sebesar 4,07 juta ton (13,29%).

Hal ini didorong perluasan lahan panen dan kebijakan penguatan hulu pertanian. Hingga April 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) telah mencapai 4,7 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah, dan diproyeksikan segera menembus 5 juta ton.

Jika ditambah dengan stok di masyarakat dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, Kafe) yang mencapai 12 juta ton, pasokan beras nasional dipastikan aman hingga 11 bulan ke depan.Menteri Zulkifli Hasan mengamini kondisi tersebut.

Menurutnya, dengan tingkat konsumsi masyarakat sekitar 32 juta ton per tahun, stok yang ada saat ini sangat mencukupi hingga akhir tahun 2027.

Peran Strategis Bulog dan Dukungan FiskalDirektur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, melaporkan bahwa penyerapan hasil panen petani telah mencapai 1,9 juta ton per pertengahan April. Angka ini mencakup hampir 50% dari target tahunan sebesar 4 juta ton.“Prediksi kami dalam seminggu hingga 10 hari ke depan, stok di gudang Bulog bisa menembus 5 juta ton karena musim panen raya masih berlangsung,” jelas Rizal.

Untuk menjaga kualitas stok nasional, Bulog kini menerapkan standar mutu yang lebih ketat. Petani diimbau untuk tidak melakukan panen dini agar butiran gabah yang dihasilkan cukup umur dan memiliki daya simpan yang baik.

Keberhasilan penyerapan ini juga didukung oleh kebijakan subsidi bunga pinjaman dari Kementerian Keuangan. Melalui skema pendanaan Bank Himbara, Bulog hanya menanggung bunga sebesar 2%, sementara 2% sisanya disubsidi oleh pemerintah.

Dukungan fiskal ini diharapkan membuat keuangan Bulog lebih sehat dan mandiri dalam menyerap hasil keringat petani lokal. (ralian)

Komentar