Drama Lawan Arus di Tanah Merdeka: Amukan Sopir Angkot dan Upaya Damai di Meja Polisi

Hukum351 Dilihat

BeTimes.id– Aspal panas di Jalan Tanah Merdeka, Ciracas, menjadi saksi bisu sebuah drama lalu lintas yang berakhir dengan pecahan kaca dan penyesalan.

Pada Selasa siang (21/4), emosi yang memuncak membuat seorang sopir angkot 019 jurusan Depok-Kampung Rambutan nekat menghantam kaca mobil pengendara lain dengan tangan kosong hingga hancur berantakan.

Kejadian yang sempat terekam kamera warga dan viral di media sosial itu kini memasuki babak baru di kantor polisi. Bukannya jeruji besi, pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Ciracas justru membuka lebar pintu perdamaian.

Bermula dari Teguran yang Berujung AmukInsiden ini bukan dipicu pengaruh alkohol atau zat terlarang lainnya, melainkan murni karena “sumbu pendek” di tengah kemacetan.

Kanit Reskrim Polsek Ciracas, AKP Hotman Capandi, mengungkapkan bahwa perselisihan bermula saat sang sopir angkot nekat melawan arus.”Pengemudi mobil L300 merasa kesal karena angkot ini sudah melawan arus, tapi tetap ngotot,” ujar Hotman saat ditemui di Polsek Ciracas, Kamis (23/4).

Teguran dari korban rupanya tidak diterima baik. Terjadi aksi kejar-kejaran bak film laga yang berakhir di depan Lotte Mart. Di sana, sang sopir angkot memalang jalan mobil korban, turun dari kendaraannya, dan menghujamkan pukulan ke kaca mobil hingga pecah.

Mengedepankan Hati Nurani melalui Restorative Justice. Meski aksi perusakan tersebut jelas terekam dan menjadi konsumsi publik di jagat maya, polisi memilih langkah persuasif.

Hingga saat ini, korban diketahui belum melayangkan laporan resmi secara tertulis.Celah inilah yang dimanfaatkan polisi untuk menawarkan restorative justice sebuah penyelesaian hukum yang menitikberatkan pada mediasi dan ganti rugi ketimbang hukuman penjara.

“Kami akan kedepankan restorative justice jika memungkinkan, terutama bila korban memang tidak berkehendak untuk melapor secara resmi. Namun, bola panas tetap ada di tangan korban. Jika ia menuntut, tentu hukum akan berjalan sebagaimana mestinya,” tegas Hotman.

Kini, nasib sang sopir angkot bergantung pada kemurahan hati sang pemilik mobil. Kasus ini menjadi pengingat pahit bagi para pengguna jalan di ibu kota bahwa ego di jalan raya seringkali berujung pada konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar keterlambatan sampai di tujuan. (ralian)

Komentar