Pertarungan keduanya disebut-sebut sebagai salah satu yang paling sengit dalam sejarah Munas Peradi. Propaganda dan ‘Black Campaign’ di Jagat DigitalKetegangan tidak hanya terasa di lobi hotel, tetapi juga meledak di ruang-ruang siber.
Grup WhatsApp para advokat berubah menjadi medan perang urat syaraf. Aksi propaganda dan black campaign mulai bermunculan, menyasar kedua kandidat.
Fikri Assegaf, misalnya, mendapat serangan tajam yang menyebutnya sebagai “orang Luhut” atau sekadar boneka penerus dinasti kepemimpinan lama.
Seorang anggota bernama Hendri, S.H., melempar narasi kritis di grup WhatsApp DPC Jakarta Selatan.”Saya mempelajari bagaimana kekuatan branding Hukum Online yang dipimpin Fikri Assegaf bisa memengaruhi pemilih. Memimpin 200 lawyer dan menjadi rujukan advokat Indonesia memang prestisius, namun kinerjanya sebagai Waketum di periode lalu dianggap belum terlihat nyata bagi organisasi,” tulis Hendri.
Di sisi lain, isu SARA juga sempat menyeruak di grup Jakarta Timur guna menekan kubu Halomoan Sianturi. Namun, di tengah panasnya tensi, Akim Lubis, Wakil Ketua Umum DPC Jakarta Timur, mencoba mendinginkan suasana dengan mengingatkan esensi demokrasi.










Komentar