Ironi Tenaga Kerja Jakarta: Serapan Meningkat di Tengah Bayang-Bayang 334 Ribu Penganggur

Peristiwa20 Dilihat

BeTimes.id– Di balik gemerlap pembangunan dan perputaran ekonomi Jakarta yang kian kencang pada awal 2026, potret ketenagakerjaan Ibu Kota menunjukkan dinamika yang kompleks. Meski angka pengangguran dilaporkan melandai, Jakarta masih menyimpan “pekerjaan rumah” besar dengan ratusan ribu warga yang masih berjuang mencari nafkah.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta yang dirilis Selasa (5/5), jumlah pengangguran pada Februari 2026 berada di angka 334 ribu orang. Secara statistik, angka ini merupakan sebuah capaian positif karena turun sekitar 4,54 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Namun, angka tersebut hanyalah puncak gunung es dari struktur angkatan kerja Jakarta yang mencapai 5,53 juta orang.

Pergeseran Kualitas Lapangan Kerja

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengungkapkan bahwa penurunan pengangguran ini berbanding lurus dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja yang mencapai 62,18 ribu orang dalam setahun terakhir.

Menariknya, terjadi pergeseran profil pekerja di lapangan.”Peningkatan penyerapan tenaga kerja terjadi pada pekerja penuh dan setengah pengangguran, sementara jumlah pekerja paruh waktu justru menurun,” ujar Kadarmanto.

Hal ini mengindikasikan adanya pemulihan pada sektor-sektor formal yang membutuhkan komitmen waktu penuh (full-time).

Namun, kenaikan angka “setengah pengangguran” (mereka yang bekerja namun jam kerjanya kurang dari standar) memberi sinyal bahwa belum semua tenaga kerja mendapatkan kualitas pekerjaan yang ideal atau produktivitas yang maksimal.

Membedah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)Secara makro, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jakarta kini bertengger di level 6,03%, turun dari 6,18% pada Februari tahun lalu. Jika disederhanakan, dari 100 angkatan kerja di Jakarta, masih ada 6 orang yang tidak memiliki pekerjaan.

Tabel berikut menunjukkan perbandingan performa TPT berdasarkan gender:laki-laki pada Februari 2025 6,77 persen, tahun 2026 menjadi 6,54 persen, turun 0,23 persen. Perempuan pada Februari 2025 sekitar 5,29 persen, dam Februari 5,28 persen, turun 0,01 persen. Meski TPT perempuan jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, penurunannya cenderung stagnan (hanya 0,01%).

Ini menunjukkan tantangan bagi pekerja perempuan di Jakarta mungkin lebih berat dalam hal aksesibilitas atau ketersediaan lapangan kerja yang spesifik bagi mereka dibandingkan kelompok laki-laki.

Tantangan ke DepanMeningkatnya jumlah angkatan kerja sebesar 57,64 ribu orang menunjukkan bahwa Jakarta tetap menjadi magnet ekonomi utama. Namun, pertumbuhan angkatan kerja yang cepat ini menuntut ketersediaan lapangan kerja yang jauh lebih masif agar angka pengangguran tidak kembali membengkak.

Penurunan pengangguran kali ini adalah sinyal pemulihan, namun dengan 334 ribu orang yang masih mengantre pekerjaan, Jakarta belum sepenuhnya keluar dari zona waspada ketenagakerjaan.

Efektivitas program pelatihan kerja dan sinkronisasi antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri akan menjadi penentu apakah angka 6,03% ini bisa terus ditekan di masa mendatang. (ralian)

Komentar