Hasto Soroti Alarm Fiskal Indonesia: Defisit, Pelemahan Rupiah, hingga Ancaman PHK

Nasional196 Dilihat

“Defisit transaksi berjalan yang terjadi pada kuartal pertama tahun 2026 dan keseimbangan primer yang negatif dalam APBN kita sangatlah mengkhawatirkan. Utang harus dibayar dengan utang, gali lubang tutup lubang,” ujarnya.

Tak hanya menyinggung kondisi fiskal, Hasto juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, melemahnya mata uang nasional bukan sekadar persoalan jangka pendek akibat dinamika pasar global, melainkan cerminan adanya persoalan struktural yang lebih dalam.
Ia menilai, pelemahan rupiah juga berkaitan dengan tingkat kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional.

Karena itu, diperlukan langkah-langkah yang mampu memperkuat fundamental ekonomi sekaligus memulihkan optimisme publik.
“Terlebih dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini yang menggambarkan adanya persoalan yang bersifat struktural dan ada persoalan terkait dengan kepercayaan,” tuturnya.

Di balik berbagai angka dan indikator ekonomi tersebut, Hasto mengingatkan bahwa dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pangan, meningkatnya angka kemiskinan, sulitnya memperoleh pekerjaan, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja menjadi persoalan nyata yang dihadapi rakyat sehari-hari.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut kini telah memasuki fase yang mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serta langkah penanganan yang cepat dari seluruh pemangku kepentingan.

“Berbagai persoalan kenaikan harga kebutuhan pangan rakyat, kemiskinan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan pemutusan hubungan kerja kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan,” pungkas Hasto. (ralian)

Komentar