Peringati Hari Lahir Pancasila, KPK Tegaskan Sila Kedua Jadi Kunci Perdamaian Dunia

Hukum402 Dilihat

BeTimes.id– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada Kavling 4, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (1/6) pagi.

Dalam upacara tersebut, Wakil Ketua KPK Johanis Tanak bertindak sebagai inspektur upacara. Ia berkesempatan membacakan pidato tertulis dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi.

Melalui pidato tersebut, Tanak mengajak seluruh pihak menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum refleksi nilai-nilai luhur bangsa.

Ia menyebut kelima sila Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan Indonesia, tetapi juga menjadi jawaban dalam menciptakan perdamaian dunia yang abadi.

“Sebagai bangsa yang besar, kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” ujar Tanak saat membacakan pidato.

Masih mengutip pidato BPIP, Tanak menerangkan bahwa Indonesia ingin perdamaian dunia terus terjaga melalui tegaknya keadilan bagi seluruh manusia.”Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” imbuhnya.

Pancasila Sebagai Fondasi Moral AntikorupsiSementara itu, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menyampaikan bahwa sebagai lembaga negara, KPK memandang Hari Lahir Pancasila sebagai pengingat penting.

Menurutnya, Pancasila merupakan fondasi moral utama dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas.KPK menilai langkah pemberantasan korupsi pada hakikatnya merupakan wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Budi menjelaskan, tindakan korupsi sangat bertentangan dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan kejujuran, amanah, dan tanggung jawab.”Korupsi lahir dari penyalahgunaan kepercayaan dan pengabaian terhadap nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi pedoman setiap penyelenggara negara. Oleh karena itu, praktik ini jelas bertentangan dengan nilai dasar Pancasila,” kata Budi.

Budi menegaskan bahwa memperingati Hari Lahir Pancasila tidak boleh terjebak dalam seremonial belaka. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen kolektif dalam menanamkan nilai integritas di setiap aspek kehidupan.

“Semakin kuat nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan sehari-hari, semakin kecil ruang bagi korupsi untuk tumbuh dan berkembang,” pungkasnya. (ralian)

Komentar