Peluncuran Buku “Sendiri Tapi Tak Sendirian”: Potret Daya Juang dan Keteguhan Hati Tati Manurung

Pendidikan331 Dilihat

Buku ini, lanjut Lamtiar, secara halus mengingatkan bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama, bukan beban perempuan semata. Ia juga menyentuh sisi manusiawi Tati saat kehilangan suaminya, Erwin Dharma Bhakti Tampubolon, pada tahun 2021, yang digambarkan dengan penuh refleksi.

Warisan Nilai dari Sang Ayah
Dalam kesempatan yang sama, Tati Herlina Manurung mengungkapkan bahwa perjalanan hidupnya banyak dibentuk oleh peran orang tua dan mertua.

Buku setebal 247 halaman yang disunting oleh Marthen Luther Djiari ini mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara pasangan Pipin Manurung dan Naomas Silitonga.

Tati menuliskan rasa bangganya terhadap sang ayah, Pipin Manurung, seorang veteran pejuang berpangkat Mayor yang turut menumpas pemberontakan DI/TII.
“Dari beliau saya belajar arti integritas, kedisiplinan, dan pengabdian tanpa pamrih,” tutur dosen Sastra Inggris Universitas Trisakti tersebut.

Uniknya, nama “Tati” diambil dari nama bidan yang membantunya lahir di Cililin, Bandung, pada 16 April 1957. Sedangkan “Herlina” diambil dari tokoh pejuang perempuan “Si Pending Emas”, Herlina Kasim.

Komentar